Kumpulan Contoh Cerpen Pendek

Kumpulan Contoh Cerpen Pendek Bahasa Indonesia Tentang Cinta

Contoh Cerpen Pendek – Berikut ini kumpulan contoh cerpen pendek Bahasa indonesia tentang cinta, kasih sayang, romantis, pengalaman orang lain dan pribadi, keluarga, persahabatan. Semoga dengan membaca cerita singkat berikut ini kamu mendapatkan manfaat.

Kumpulan Cerpen Singkat

Contoh Cerpen Pendek
Contoh Cerpen Pendek

Judul: Masku Bukan Teroris
Oleh: Ismi

 

Cerita ini terinspirasi dari kisah nyata. semoga dapat diambil pelajarannya untuk kita semua.

Seminggu yang lalu aku mengunjungi ponakan-ponakanku yang masih kecil. Sesak melihat mereka tumbuh tanpa orangtua yang mendampingi. Ibunya meninggal karena sakit tiga bulan yang lalu. Sedangkan Mas Fahmi, ayah mereka terpaksa harus mendekam di Rutan. Untuk sementara ibuku yang merawat mereka.

Satu bulir airmata akhirnya terjatuh dari mata ibuku. Bagai embun yang menggelayut pada dedaunan trembesi itu. Wajah yang tak hentinya memikirkan nasip  cucu-cucu kesayangan. Ada kabut yang tak henti-henti jua menutupi pandangan.

“Nak, Masmu bagaimana di sana?”

“Baik-baik saja Buk. Mas bilang, minta do’anya.”

“Aku ini selalu mendo’akan Masmu, Nak. Apapun kondisinya. Yang membuat ibu sedih adalah Haidar,” Haidar adalah keponakanku yang paling kecil. Umurnya baru tiga tahun bulan ini.

“Saat Ibu menunjukkan foto keluarga kita. Haidar bisa ingat sama semuanya. ibu, ayahmu, Kamu, lek siqin dan ibunya. Tapi, pas Ibu menunjuk si Fahmi. Haidar hanya diam. Dia ndak tahu ayahnya, ndak kenal. Terus bagaimana bisa kayak gitu, Nak?” Ibu bercerita dengan sesenggukan, tak lagi hanya sekadar menitikkan air mata. Menyadari Haidar tak mengenali ayahnya. Bagaimana bisa Haidar akan tumbuh seperti anak-anak lainnya tanpa Mas Fahmi? Sedang tuntutan hukum menjeratnya selama sepuluh tahun.

“Ini semua gara-gara Fahmi menanam ganja itu. Kok bisa dia nekat begitu.”

“Sudahlah Buk. Mas fahmi kan menanam ganja untuk kesembuhan Mbak Lastri. Mpun mboten usah di pikirkan lagi,” aku berusaha menghibur ibu yang makin bergetar suaranya. Aku elus punggung Seorang ibu yang merasakan ketidak adilan pada anaknya.

Lanjutan Cerita Cerpen Pendek

Waktu pemakaman Mbak Lastri. Aku merasakan begitu susahnya mengurus ijin untuk Mas Fahmi. Padahal hanya sekadar untuk ikut berduka dengan kepergian istrinya saja, seperti tidak di perbolehkan. Kami bertolak dari rumah sakit yang sebelumnya merawat Mbak Lastri yang pada akhirnya berpulang.

“Dek. Aku tak diijinkan untuk manaiki ambulan sama istriku,” matanya terlihat bengkak. Begitu terlihat penyesalan di wajahnya.

“Kok nggak boleh Mas? bagaimana sih. Mas kan sedang berduka,” aku tak setegar Mas Fahmi. Airmataku sudah bercucuran dari tadi.

“Sudah ndak papa. Yang penting aku bisa lihat dia di makamkan. istriku tidak tahukan, bila aku di penjara? Kamu memegang janjimu kan Ra?” aku mengangguk.

“Syukurlah. Terimakasih yah Dek. Entah bagaimana aku tanpa bantuanmu.”

“Mas yang kuat yah. Aku janji akan cari cara untuk membebaskanmu. Aku tahu mas nggak salah, aku tahu.”

Lanjutan Cerita Cerpen Pendek

Dalam percakapan kami, tiba-tiba datang dua orang polisi membawa senjata laras panjang, memberitahukan untuk segera berangkat. Karena ijin yang di berikan atasannya cuma sampai tiga jam. Aku hanya bisa mengangguk maklum, meski rasanya ingin kuhajar saja kedua polisi itu.

“Dek, jagain Azhar sama Haidar yah.”

“Iya, Mas jangan kuwatir.”

Aku merasakannya sendiri, bahwa hukum negara ini memang tidak adil. Masku bukan seorang teroris, ia hanyalah seorang suami yang ingin istrinya bisa sembuh kembali. Masku bukan seorang penjahat, ia hanyalah seorang ayah yang mengkhawatirkan perkembangan anak-anaknya. Tidakkah ada sedikit saja rasa kasihan? perlakuan kepadanya mengisyaratkan, seolah-olah Mas Fahmi adalah ketua pengedar narkoba se-Jakarta.

Selama di perjalanan. Aku hanya bisa memandang tubuh Mbak Lastri yang sudah terbujur kaku. Ingatan tangisnya ketika menahan sakit terus menyeruak, menambah perih hatiku. Aku banyak berbohong kepadanya tentang Mas Fahmi, ketika mbak lastri manenyakan tentang keberadaannya.

“Dimana suamiku, Ra?”

“Mas fahmi sedang pergi untuk mengurus obatnya mbak.”

“Kok lama sekali, Ra?”

“Iya, Mbak. Obatnya perlu ijin yang susah. Jadi Mbak tenang saja yah,” aku mencoba menggengam tangan mbak lastri, agar dia kuat. Penyakitnya sungguh tak ada belas kasihan sedikitpun. Yang kulihat kini ia begitu kurus, sampai-sampai tulangnya menonjol. Memperlihatkan penyakit yang bertahta tak tahu malu.

Lanjutan Cerita Cerpen Pendek

“Azhar sama Haidar gimana, Ra?”

“Mereka baik-baik saja Mbak. Sudah mbak istirahat sajah, yah,” tak kuasa aku berbohong terus-menerus. Mbak lastri sudah sulit bicara, namun tetap berusaha menanyakan kabar anak dan suaminya. Beberapa kali ketika Mbak Lastri terbangun dari komanya yang di tanya selalu sama. Mana suamiku? Bagaimana Azhar dan Haidar?

“Aku mau me-mendenghar shuaranya Rha, tho-long telpon suamikuh,” aku tak tega, sungguh tak tega. Mbak, suamimu di penjara sekarang, karena ketidak adilan. Karena mencoba menyelamatkanmu. Ingin sekali aku berucap demikian. Namun apalah dayaku. Janji tetap janji.

“HP Rara, tertinggal di rumah Mbak.”

“HPnya Ibu rusak, Nak. Jatuh di toilet,” Ibuku jadi ikut-ikutan berbohong. Namun aku tahu ibu sesungguhnya menahan tangis. ketika berbalik untuk mengambil air, aku melihat punggungnya naik turun.

Di rumah duka mata-mata serempak memandang ketika mobil jenazah datang di sertai iring-iringan mobil polisi. Seluruh warga yang hadir, memandang iba masku yang datang dengan di borgol. Bahkan sampai teraspun polisi masih saja mengacungkan senjatanya, takut bila masku tiba-tiba mencoba kabur. Betapa berat cobaanmu, Mas.

Ketika pemakaman berlangsung, masku tidak di ijinkan untuk membawa istrinya menuju peristirahatan terakhir. Mas hanya boleh melihat, setelah itu segera di bawa kembali ke rutan. Jam ijin berduka sudah habis. Namun jam untuk menangisi istrinya tak akan pernah habis.

Lanjutan Cerita Cerpen Pendek

Semenjak mengandung Haidar, Mbak Lastri memang sudah sakit. Tidak ada sel darah putih di tubuhnya yang mungil. Layaknya pelindung, sel darah putih melindunginya dari serangan orang jahat. Maka bila sang pelindung itu tidak ada,  berbagai penyakit dengan leluasa menggrayangi tubuhnya. Infeksi akibat jatuh di kakinya, semakin parah. Pendarahan tak kunjung terhenti.

Berminggu-minggu Mbak Lastri di rawat, namun hasilnya tetap saja sama. Tidak bisa makan, tidak bisa tidur dan bicara. Luka di kakinya juga semakin memburuk. Dokter hanya bisa bilang, bahwa jika ingin sembuh butuh biaya lebih. Dan berpindah ke rumah sakit yang lebih besar. Kami sekeluarga sudah tidak kuat membiayai. Sampai akhirnya Mas Fahmi memutuskan untuk merawat mbak lastri di rumah saja.

Awalnya aku menolak. Bisa saja mbak lastri akan semakin buruk bila di rawat di rumah. Namun setelah beberapa minggu aku mendengar kemajuan dari Mas Fahmi, bahwa Mbak Lastri sudah bisa makan, sudah mulai tidur dan berbicara. Aku sangat bersyukur. Alloh memberikan mukjizatnya untuk mbak lastri.

Lanjutan Cerita Cerpen Pendek

Aku tidak pernah berpikir yang aneh-aneh tentang kondisinya yang mulai membaik. Tapi tiba-tiba aku di kagetkan dengan penangkapan Mas Fahmi yang diduga terlibat jaringan narkoba. Bagaimana bisa?

Ternyata dia menanam ganja di kebun belakang rumahnya. Tapi tidak untuk di edarkan apalagi untuk membuat narkoba. Mas fahmi hanya mengambil ekstraknya untuk pengobatan Mbak Lastri. Penyelidikan juga membuktikan, tidak terlibat pengedaran. Tes urin juga, mas fahim terbebas dari zat narkotika itu. Tapi tetap saja hukum itu berlaku untuknya.

“Hukum secara jelas sudah tertulis. Memiliki empat ikat saja. Akan di hukum selamanya. Apalagi dua puluh tuju ikat,” ucap pria yang berseragam di tivi. Tak ada pilihan lain untukku selain mendapat perhatian dari media masa.

“Hukum tetap hukum. Meskipun untuk pengobatan. Tidak pernah tertulis sampai sekarang bahwa ganja berguna untuk pengobatan. Lagi pula dia tidak memiliki ijin,” bagaimana pun apa tidak bisa, demi seorang ayah yang memiliki dua anak?

Lanjutan Cerita Cerpen Pendek

Sekarang aku bersama pengacara dan ketua lingkar ganja menjenguk mas fahmi di rutan.

“Mas tenang yah. Nanti kami usahakan untuk kebebasannya, Mas,” ucapku menyemangati.

“Pasti bisa. sebenarnya Mas tidak bersalah. Bahkan dari tiga ribu tahun yang lalu, ganja memang sudah di gunakan untuk pengobatan,” Ucap ketua lingkar ganja yang ikut menyemangati.

“Terimakasih. Biarlah saya di penjara sampai sepuluh atau bahkan dua puluh sekalipun. Tidak papa. Tapi yang saya sesalkan adalah tidak bisa mendampingi istri saya di saat-saat terakhirnya. Dan kedua buah hatiku yang masih kecil.”

Aku menitikkan air mata sekali lagi. Tidak terlihat sesal sekarang di wajah Mas Fahim. Meski hukum menghianatinya. Meski hukum tumpul untuk yang diatas dan sangat runcing untuknya. Tetap tak ada wajah sesal. Yang ada hanyalah senyum teduhnya. Aku berjanji mas, akan ku tegakkan hukum ini untukmu. Aku berjanji.

Mojokerto, 09-07-17

Contoh Cerpen Pendek

Contoh Cerpen Pendek
Contoh Cerpen Pendek

Judul: Dua Jalan
Oleh: Ismii

Aku merindukan Bunda. Sungguh rindu sampai aku tidak mau menerima kematiannya. Jika Ayah tersenyum menatap foto pernikahannya yang dipasang langsung menghadap ruang tamu. Maka aku akan memicingkan mata karena tidak bisa menemukan kode di foto itu. Imajinasiku liar karena sosoknya. Tetap cantik bahkan mengalahkan kecantikanku meski akulah yang berumur remaja.

Sore itu, aku menenangkan diri di pacet. Rumah nenekku adalah yang terbaik untuk mengenang masalalu. Taman belakangnya seluas lapangan bola voly. Dengan tanaman Beluntas setinggi pinggang yang berfungsi sebagai pagar. Bunda! Lihatlah aku di sini. Hanya menikmati angin sore yang dingin tanpa mencoba beranjak. Biasanya Bunda selalu menyuruhku masuk untuk menghangatkan diri, kan. Bisakah Bunda melakukannya lagi?

“Nak, sayang!”

Baiklah, aku mengalami halusinasi lagi. Bahkan walau suaranya terdengar jauh, tapi terasa begitu nyata. imajinasiku sepertinya mulai keterlaluan.

“Bunda rindu sama kamu.”

Bukan! Itu bukan hanya anganku yang berusaha menyeimbangkan kesintingan. Aku mencari sumber suara, kali ini aku yakin. pasti tidak salah dengar.

Lanjutan Cerita Cerpen Pendek

Di ujung pagar ada seseorang yang dengan cepat menjauh saat aku menoleh. Sore ini mendung. Jadi aku tahu kalau itu bukan hanya sekadar bayangan pohon. Aku bergegas mengikutinya sampai keluar. Tapi dia sudah tidak dalam pandangan. Di bawah pohon besar ini ada dua jalan yang menyilang. Yang sebelah kiri nampak lebih rimbun dari yang sebelah kanan. Berarti jalan yang kiri adalah jalan menuju hutan. Gelap sekali kelihatannya, jelas bahwa jalan ini pasti jarang sekali di lalui.

Krek krek.

Aku mendengarnya! Tak salah lagi. Pasti orang itu menuju hutan. Aku berjalan denga terburu hingga lupa bahwa aku hanya memakai sendal jepit Swallow kepunyaan Nenek. Baru melewati beberapa tumbuhan rimbun kakiku sudah terluka. Tapi tidak ada waktu untuk kembali ke rumah dan berganti sepatu. Aku bisa melihat orang itu, dia berlari karena aku kejar.

Sebelah kananku sekarang ada jurang yang cukup dalam. Aku mulai lelah. Langit sudah terlihat gelap. Pucuk-pucuk pohon meliuk-liuk bersama angin, mereka terlihat seperti tangan penyihir bagiku.

Lanjutan Cerita Cerpen Pendek

Kuputuskan untuk istirahat saja di batu besar pinggir jurang. Aku melihat kembali jalan yang telah di lalui, namun yang ada hanya gelap. Pengejaran ini sia-sia, orang itu menghilang entah kemana, dan aku yang tidak bisa pulang.

“Ghuu ghuu.”

Burung Hantu sialan! Sadar tidak sih bahwa suaranya itu tidak merdu sama sekali?

“Bila,” seseorang menepuk bahuku.

“Aaaaaaaaaaaaa.”

Dia? Dia?

Leave a Comment