cerpen pengalaman pribadi

Kumpulan Cerita Contoh Cerpen Pengalaman Pribadi Diri Sendiri Singkat

contoh cerpen pengalaman pribadi – Berbagi tentang pengalaman pribadi diri sendiri dalam bentuk cerita singkat bukanlah hal mudah. Terlebih lagi membuat cerpen pengalaman hidup yang dapat memberikan pelajaran bagi kehidupan kita sehari.

Berikut ini adalah kumpulan cerpen pengalaman menarik, unik, lucu, liburan yang mengesankan juga menyenangkan.

Kumpulan Cerpen Pengalaman

cerpen pengalaman pribadi
cerpen pengalaman pribadi

Judul: Rona Jingga Sehabis Duka
Oleh: Zora Febriyanti

Gadis bermata teduh itu duduk di samping jendela kamarnya. Ia memandang jalan setapak yang masih menyisakan kengerian. Semburat wajah laki-laki yang meminangnya bulan lalu, kembali memenuhi pikirannya.

Tak habis pikir, setiap kali datang seseorang meminangnya. Kejadian aneh selalu beruntun terjadi. Tiga orang laki-laki yang meminangnya bernasib sama. Memang tak sampai merenggut nyawa, tetapi mereka ditemukan terluka di pinggiran hutan tak jauh dari desanya.

Humairah Ningsih. Demikian namanya, sosok gadis cantik dan tangkas.

Ia telah berumur dua puluh enam tahun. Namun, tak kunjung ia melengkapi separuh agamanya.

Suatu malam, saat bulan purnama bersinar terang. Humairah pulang sendirian menyusuri jalan. Hanya lampu temaram dan beberapa warung kecil yang masih buka. Tak ada rasa ngeri sedikitpun, ia menenteng Al-Qur’an sambil membaca shalawat di sepanjang perjalanan.

Sesekali, suara gonggongan anjing kampung memecah keheningan. Dilihatnya pula dua orang bapak-bapak tertidur lelap di post ronda.

Tiba ia di ujung jalan. Tak ada lampu ataupun penerangan lainnya di sana. Untung saja ada sedikit sinar bulan yang membantu penglihatannya.

Samar-samar terlihat sosok laki-laki. Memegang sebuah senter kecil sambil melambai tangannya ke arah Humairah.

“Ra! Kaukah itu?” tanyanya sedikit berteriak.

“Bang Fatih. Ini Ira, bang.”

Lanjutan cerpen pengalaman pribadi

Gadis itu berlari kecil. Ia amat merindukan abangnya. Sudah empat tahun lamanya mereka tak saling bertemu. Fatih bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Dan ia telah menikah dua tahun lalu, sayangnya Humairah tak dapat hadir kala itu. Hanya abah dan ibunya yang datang ke Jakarta.

“Larut sekali pulang, Ra. Apa kau tak takut jalan sendirian?” suara Fatih gusar.

“Tidak apa-apa, bang. Tadi terlalu asik membaca Al-Qur’an, sehingga lupa harus pulang.”

Humairah terkekeh kecil. Ia tak henti-henti memandang wajah Fatih. Ia takjub akan perubahan penampilannya. Tak sama seperti dulu, sekarang Fatih bak pangeran dari istana metropolitan.

Lanjutan cerpen pengalaman pribadi

Saat fajar, Humairah telah bangun. Sehabis sholat subuh ia mendatangi ibunya di dapur.

“Bu, mana abah?”

“Di belakang. Katanya mau menangguk ikan.”

“Ira bantu ya, bu. Kasihan abah sendirian.”

Seulas senyum mengembang diwajah ibunya. Walaupun, kadang ia merasa aneh pada anak gadisnya itu. Bagaimana tidak, Humairah lebih sering mengerjakan pekerjaan laki-laki dari pada berkutat di dapur.

“Bah, Ira yang lanjutkan. Abah istirahat saja,” sahutnya bersusah payah berjalan di kolam berlumpur itu.

“Ira, bantu ibu saja sana. Ini kerjaan abah, sebentar lagi selesai, Ra.”

“Di dapur sudah selesai, bah.” Ira bersikeras.

Lanjutan cerpen pengalaman pribadi

Abah memandang Ira sejenak, ada rasa bersalah di sana. Bagaimana anak gadisnya ini begitu malang. Padahal, ia adalah gadis taat dan kuat. Ingin rasanya ia melihat Humairah segera menemukan seorang calon imam.

“Ra, jika ada yang meminangmu lagi. Apa kau bersedia menerimanya, nak?”

Mendengar ucapan abahnya, seketika keringat dingin membanjiri sekujur tubuh Humairah. Walau tak pernah ditampakkan, ada rasa ketakutan di dalam hatinya. Takut jika laki-laki itu akan terluka. Sudah cukup rasanya melihat orang terluka hanya karena telah meminangnya.

Banyak yang bertanya,  apa ada suatu kesalahan atau ilmu hitam dikeluarganya. Tapi, tak ada hal seperti itu. Sungguh. Pantang sekali mereka mengikuti perbuatan setan, bahkan mereka dikenal keluarga yang taat.

“Tapi, bah. Ira takut kejadian mas Rudi, mas Arsa, dan mas Guntur terulang lagi.”

“Kita berusaha lagi kali ini ya, nak. Kata abangmu, ada temannya yang akan datang meminangmu. Kau bersedia?”

“Jika ia tak apa-apa. Aku bersedia, bah,” jawabnya pelan.

Lanjutan cerpen pengalaman pribadi

Ba’da Isya, datanglah empat orang menuju rumah Humairah. Setelah saling mengucap salam, akhirnya pembicaraan serius dimulai.

Tak banyak yang dapat didengar Humairah, karena ia hanya menunggu di kamar. Setelah pembicaraan selesai, barulah ia diperkenankan keluar.

Sambil tertunduk, Humairah dengan lembut namun tegas menyampaikan sesutau yang sejak tadi mengganjal di hatinya.

“Sungguh. Ada beberapa kejadian yang tak terduga beberapa waktu lalu. Bayangan tentang mereka selalu saja muncul. Karena, rasa takut itu tak kunjung hilang.”

“Tak usah kau takut, nak. Kami telah mendengar semuanya dari abahmu. Do’akan niat baik kita tak menemui kesulitan.”

Lega hatinya mendengar itu, ia mengangguk pelan dan terus berdo’a dalam hati.

Tiba-tiba saja Humairah ingat tentang sesuatu, belum nampak dimatanya orang yang datang meminang itu. Ia mengangkat wajahnya sedikit, tepat di depan abahnya. Sosok pemuda dengan rambut agak panjang dengan mata yang kecil. Langsung terlintas pertanyaan dibenaknya, taatkah pemuda ini?

Pukul sebelas malam, sepilah rumah gadis itu. Segera ia datangi abangnya, Fatih. Tak apa pikirnya jika sekedar bertanya tentang calon imamnya itu.

“Bang, apa kau kenal dekat dengan mas Fadli?”

“Iya, dek. Ada apa?” heran Fatih.

“Taatkah ia? Sejujurnya, aku tidak suka dengan rambut panjangnya.”

Fatih hanya menyunggingkan senyumnya. Dari sorot matanya, ia ingin Humairah percaya padanya dan Fadli. Gadis itu menarik nafasnya panjang.

Lanjutan cerpen pengalaman pribadi

Satu bulan kemudian, saat hari telah beranjak sore. Entah mengapa Humairah masih berdiri di pinggir hutan tempat ketiga pemuda yang meminangnya terluka. Ada sesuatu yang tak ia sukai di sana. Seolah menusuk hidung dan menuntut matanya mencari sesutu yang amat penting dari sana.

Ia ambil sepotong kayu kecil dan mengorek-ngorek tanah yang tertutup daun bambu. Terkejut sekali ia, ketika menemukan botol-botol minuman haram tergeletak di salah satu rumpun bambu. Ia mulai mengingat sesuatu, saat ketiga pemuda itu datang ke rumahnya. Ada bau aneh ditubuh mereka. Awalnya, Humairah tak memperdulikannya. Mungkin saja itu bau parfum, walaupun tak masuk akal.

“Itu botol minuman pemuda-pemuda yang terluka beberapa bulan lalu,” sahut seorang perempuan berumur empat puluh tahun. Humairah melihatnya di pondok tak jauh dari tempat itu ketika lewat tadi.

“Apa sekitar sini ada hewan buas, bu? Kenapa mereka bisa terluka?”

“Kau lihat pohon dengan duri tajam itu? Dahannya sangat mudah patah. Kebetulan setiap mereka ke sini, angin kencang tiba-tiba saja muncul.”

Hati Humairah bergetar tak percaya. Allah sangatlah sayang padanya. Sehingga tak diperkenankan ia jatuh pada laki-laki yang demikian prilakunya.

Saat senja hampir tenggelam dengan rona jingganya, Humairah pulang dengan hati yang amat bahagia. Tak disangka, tepat sehari sebelum akad berlangsung, gadis itu menemukan jawaban akan kegundahannya. Misteri tentang Fadli yang tak ia sukai rambutnya itupun telah tuntas, berkat cerita dari abangnya tadi siang. Seusai Fatih bercerita, hatinya langsung luluh. Dan siap memberi cintanya untuk Fadli.

Tak habis-habisnya rona bahagia mengembang dipipinya. Tentang Fadli yang ingin dikenalnya lebih dalam. Dan tentang angin yang menjadi perantara Allah untuk memisahkan dengan yang bukan jodohnya.

“Sungguh. Maafkan aku yang terlambat mengertimu-Mu,” lirih Humairah pelan.

***

Bengkulu, Agustus 2017

Leave a Comment