Kumpulan Kisah Cinta Romantis Bikin Baper Dalam Bentuk Cerpen

Kisah Cinta Romantis – Banyak sekali cerpen cinta paling romantis entah itu zaman rasulullah seperti cerita cinta ali dan fatimah atau di zaman sekarang. Kumpulan cerita tersebut banyak di sajikan berupa cerpen ataupun novel agar bisa nikmati oleh banyak orang. Seperti kisah-kisah romantis berikut ini yang bikin baper.

Kisah Cinta Romantis

kisah cinta romantis
kisah cinta romantis

Judul : Tentang Rasa
Oleh : aanchaa

Tidak ada yang salah dengan sebuah perasaan. Mau dalam kondisi apapun ia datang, di tempat manapun, dengan cara yang bagaimanapun, ia tetap tak bersalah. Aku tau itu. Hanya saja terkadang adanya sebuah rasa itu mampu menyakiti seseorang.

Sikap aneh Lisa beberapa bulan ini terjawab sudah. Ya, semua ini menyangkut sebuah perasaan. Perasaan yang tak mampu dihalau datangnya. Pun masuk tanpa permisi di lubuk hati terdalam. Maka dari itu, aku juga tak bisa menyalahkan Lisa atas perasaan miliknya itu. Aku hanya bisa memeluknya erat. Meyakinkannya bahwa tidak ada yang salah dengan semua ini. Dia sahabatku. Sahabat terbaikku. Aku tau dia tidak pernah  berniat menyakitiku sedikitpun. Tidak akan mengkhianatiku juga.

“Maafkan aku, Ra! Tidak seharusnya aku menaruh hati pada Evan,” ungkapnya untuk kesekian kali sejak satu jam yang lalu. Aku tersenyum padanya. Apalagi yang bisa aku lakukan? Toh aku tetap tak bisa mengubah hal yang sudah terjadi. Dan lagi aku tidak punya hak untuk melarangnya menaruh hati pada Evan.

“Kau tidak perlu minta maaf, Sa! Kamu lupa, aku bukan pacar Evan. Jadi sah-sah saja kalau kamu suka sama dia.”

“Tapi tetap saja, Ra! Dia kan lagi deketin kamu! Pasti bentar lagi dia nembak kamu! Aku kan jadi gak enak sama kamu!” Aku hanya tertawa atas pernyataan yang diberikannya. Aku sendiri tidak terlalu berharap pada apa yang akan terjadi antara aku dan Evan. Ck … baiklah, tentu saja aku berharap lebih! Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku memang menyukai Evan.

Lanjutan Kisah Cinta Romantis

Dengan adanya dia di sekitarku selama beberapa bulan ini sudah cukup membuatku makin jatuh terlampau dalam. Aku juga tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada hatiku. Hanya mendengar namanya disebut saja aku harus menggigit bibir untuk menyembunyikan senyumku. Konyol memang. Tapi begitulah kenyataan yang terjadi.

“Masa cuma Lisa aja yang dipeluk? Aku juga mau, Ay!” Evan. Tidak salah lagi. Hanya dia yang memanggilku Aya, bukannya Ara. Panggilan sayang, katanya.

Aku gadis normal. Dan gadis normal mana yang tidak menyukai ‘panggilan sayang’? Pun aku tau Evan bukanlah tipe laki-laki yang dengan mudah memberikan panggilan sayang untuk sembarang orang. Jadi, katakan padaku bagaimana bisa aku mengabaikan desiran halus yang hadir hanya karena panggilan sayang dari orang yang kau sukai?

Lisa melepas pelukannya dariku. Berusaha tersenyum, meski aku tau dia cemburu. Tapi aku juga tidak bisa menepisnya. Ia beranjak dari kursi yang didudukinya.

Lanjutan Kisah Cinta Romantis

“Aku pulang duluan ya, gak mau ganggu orang pacaran. Nanti bisa-bisa jadi setannya lagi,” candanya. Ah, aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaanku jika aku menjadi dia. Masih bisa-bisanya Lisa bercanda.

“Apaan sih, Sa?” “Lisa tau banget sih!” ujarku dan Evan bersamaan. Aku melotot dan  memukul pelan lengan Evan.

“Apaan sih? Kalau kangen tuh bilang aja! Gak perlu pake mukul-mukul segala,” aku kembali memelototi Evan. Cukup! Walau bagaimanapun Lisa tetap sahabatku, dan aku tidak mau dia lebih terluka lagi gara-gara perlakuan Evan padaku.

“Udah ah, aku pulang dulu ya! Bye!” Aku masih menatap punggung Lisa hingga menghilang di kelokan lorong gedung fakultasku.

“Ay,” tatapanku kembali fokus pada Evan. “Kamu gak kangen sama aku?”

“Gak.” Pembohong. Hanya saja aku memang tidak mau mengakuinya. Tidak di depannya secara langsung. Tidak sebelum aku tau dan yakin bahwa Evan memang benar-benar menyukaiku.

“Jahat banget sih. Padahal aku udah kangen berat sama kamu.” Gombal. Itu juga yang terlintas di benakku ketika awal-awal kenal Evan. Tapi semakin aku kenal dia, semakin aku tau dia bukan tipe laki-laki yang suka menggombal. Jadi, ini salah satu misteri yang belum bisa aku pecahkan.

“Obral gombal mulu sih, Van!” Evan berdecak atas pernyataanku.

“Seenggaknya aku cuma gombalin satu cewek. Lagian aku ngomong jujur sama kamu.” Aku memutar mata pura-pura bosan mendengar gombalannya. Namun diam-diam aku menghela napas. Menetralkan detak jantung yang tidak normal di dadaku. Ah, aku kasian sekali pada jantungku yang harus selalu bekerja ekstra kalau deket-deket Evan.

Lanjutan Kisah Cinta Romantis

Aku kembali menekuni tugas kuliah yang diberikan Pak Dedi tadi pagi. Mencoba dengan keras untuk fokus. Bagaimana tidak? Dengan Evan di sampingku, fokus pada tugas ini adalah hal yang sangat sulit aku lakukan. Apalagi dia sedang menatapku sambil menopang kepalanya dengan tangan kanan. Seperti menikmati apa yang sedang dilihatnya. Evan menghela napas kemudian menggeleng-gelengkan kepala.

“Kenapa?” tanyaku heran. Kurasa dia tadi baik-baik saja.

“Gak papa!” jawabnya sambil tersenyum. Aku kembali memutar mata dan melanjutkan membaca tugasku. Tiba-tiba Evan mengacak puncak kepalaku pelan. Aku mengernyit dan merapikan rambutku yang jadi berantakan.

“Sayang banget sama cewek satu ini!” Blush. Katakan bagaimana aku tidak berbunga-bunga mendengar pernyataan darinya itu. Baiklah, aku berlebihan, aku bahkan tidak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaanku saat ini.

“Apaan sih? Udah ah, pulang yuk!” ajakku. Menyembunyikan rona merah dipipi yang aku yakin terlihat jelas.

“Bilang dulu, kamu sayang juga sama aku gitu!” desaknya.

“Apaan sih, Van!”

“Ck … Bilang dulu baru pulang!”

“Aku juga sayang sama kamu.” lirihku. Dia tersenyum lebar.

“Apa? Gak kedengeran. Coba bilang lagi!”

“Iya, aku juga sayang sama kamu! Puas!” Tiba-tiba dia memelukku erat. Aku memukul punggungnya berkali-kali meminta dia melepas pelukannya. Setelah ia melepaskan pelukannya, sebuah senyuman sama-sama menghiasi wajah masing-masing.

Dengan segera aku memberesi buku-buku yang berserakan di atas meja. Baru saja aku hendak menyampirkan tas di bahuku, Evan sudah menariknya dan menyampirkan tasku di bahunya. Kemudian menggandengku menuju parkiran. Hal kecil yang berhasil membuatku jatuh lebih dalam lagi.

Kali ini aku akan mengakuinya. Ya, aku mencintai Evan. Sangat.

Lanjutan Kisah Cinta Romantis

Hari ini Evan ulang tahun. Aku sudah merencanakan kejutan kecil untuknya. Aku tau dia sedang menginap di rumah Davin, teman satu jurusannya yang kebetulan adalah tetanggaku. Tentu saja atas persetujuan sang pemilik rumah.

Aku kembali mengecek penampilanku di cermin. Aku bukan cewek yang suka dandan, jadi aku benar-benar gugup sekarang. Bagaimana kalau Evan gak suka penampilan aku? Gimana kalau-.

“Udah cantik kok! Gak perlu gugup gitu kali, Ra!” kata Lisa meyakinkanku. Aku hanya tersenyum sebagai balasan. Sebenarnya aku tidak mau melibatkan dia dalam rencanaku ini. Bukan karena aku tidak suka dia deket-deket sama Evan, melainkan karena aku tidak mau dia semakin sakit hati. Tapi dia sendiri yang memaksa untuk membantuku. Dan bukan Lisa namanya kalau dia tidak berhasil mendesakku menyetujuinya.

Aku mengirim pesan pada Davin untuk memberitahunya bahwa aku sudah di depan rumahnya. Tidak lama dia membalas, menyuruhku lewat pintu belakang dan ke ruang tamu. Segera saja aku menuruti perkataannya. Aku masuk ke dapur dengan Lisa di belakangku membawa kadoku untuk Evan. Samar-samar aku mendengar suara orang-orang sedang mengobrol.

“Sekarang ceritain deh awal kamu kenal sama Ara!” bujuk seseorang yang langsung disambut persetujuan dari orang-orang lainnya.

Lanjutan Kisah Cinta Romantis

Ku dengar Evan tertawa sejenak. Aku yakin permintaan itu ditujukan ke Evan. Diam-diam aku tersenyum. Ah, mengingat dia saja sudah membuatku senyum-senyum seperti orang gila. Dengan sebisa mungkin tanpa suara, aku masuk ke ruang tamu. Tapi sepertinya tidak ada yang menyadarinya, mereka masih terfokus ke Evan.

“Sebenernya aku tau Aya karena Lisa. Waktu itu aku lagi nyari tau tentang Lisa. Kalian tau kan, aku suka sama Lisa-” Deg. Rasanya seperti terlontar dari puncak everest. Dan jatuh remuk tak tersisa.

“-aku gak punya alasan buat deketin Lisa, jadi aku deketin Aya dulu.”

“Jadi kamu deketin Aya buat deketin Lisa? Jahat banget sih!” kata salah satu temannya. Evan kembali tertawa.

“Ya, semacam itu lah!” jawabnya sambil mengangguk-angguk.

Satu tetes air mataku jatuh. Aku mematung. Saat itulah Evan menyadari bahwa aku ada di sana. Ekspresinya langsung berubah heran, kemudian tersenyum, untuk kemudian berubah lagi jadi ketakutan.

Aku gak punya alasan buat deketin Lisa, jadi aku deketin Aya dulu. Kata-kata itu terus berputar-putar di kepalaku seperti kaset yang rusak dan tak mau memutar lagu lain.

“Aya …,” gumamnya. Aku mencoba tersenyum. Kemudian menghamipinya dan menyerahkan kue ulang tahun untuknya.

“Happy birthday, Van!” kataku.

Lanjutan Kisah Cinta Romantis

Sebisa mungkin aku menahan air mata yang mendesak ingin keluar. Aku segera mengambil kado dari tangan Lisa yang masih terkejut, dan menyerahkannya juga ke Evan. Kemudian tanpa sepatah katapun berlalu keluar.

“Aya!” panggil Evan menghentikan langkahku. Aku menghela napas dan berbalik menghadapnya lagi.

“Maaf atas kebodohanku untuk jatuh cinta sama kamu, Van. Dan kamu gak perlu khawatir, tanpa bersusah payahpun kamu udah berhasil nyuri hatinya Lisa.” Aku berbalik lagi dan tersenyum kepada Lisa.

“Ra …,” lirihnya. Aku menghampirinya dan memeluknya.

“Selamat ya, Sa! Aku udah bilang kan dari awal, tidak ada yang salah dengan sebuah perasaan.” Aku tidak mampu menahan air mataku lagi. Segera aku berlari keluar. Aku mendengar teriakan Evan memanggilku, namun aku tak menggubrisnya sama sekali.

PLAK! Aku yakin seseorang pasti sedang menamparnya berdasar apa yang aku dengar.

“Kamu adalah cowok paling jahat yang pernah aku kenal-” Itu suara Lisa, tapi kemudian aku tak mendengarnya setelah berhasil keluar dari rumah Davin.

Malam ini, untuk pertama kalinya di hidupku aku merasakan sakitnya patah hati.

Lanjutan Kisah Cinta Romantis

Pagi ini pertama kalinya aku keluar kamar. Selama beberapa hari ini aku memang mengurung diri. Aku juga tidak berangkat kuliah dan mematikan smartphoneku. Ketika Lisa ataupun Evan datang pun aku memilih untuk tidak menemui mereka. Aku tidak peduli disebut sebagai pengecut. Aku memang masih belum mampu berdamai dengan rasa sakit. Aku masih butuh waktu untuk menyembuhkan luka.

Mama tersenyum senang melihatku kembali ikut sarapan bersama. Setelah malam itu, Mama tidak bertanya apapun. Tanpa harus menjelaskan apapun, Mama selalu mengerti. Terkadang aku heran atas ikatan seorang ibu dan anaknya.

Kulihat Papa sudah berada di meja makan sambil mengecek laptopnya. Senyumnya melebar melihatku duduk di sebelahnya dan mengucap selamat pagi sembari mencium pipinya.

Selama sarapan, tidak ada satupun yang memulai obrolan. Seperti sebuah kesepakan yang tidak tertulis untuk tidak berbicara.

“Papa baru aja dapat email dari kantor.” Aku dan Mama langsung menatap Papa yang tersenyum lebar. “Papa dapat promosi. Kita bakal tinggal di Jepang. Kamu bisa melanjutkan kuliahmu di sana, Ra!”

Aku tidak tau harus bahagia atau sedih mendengar kabar itu. Di satu sisi, aku senang karena dari dulu aku memang ingin kuliah di luar negri. Tapi di sisi lain, aku juga sedih harus meninggalkan Indonesia. Meninggalkan teman-teman, Lisa, Evan. Ah, nama itu lagi-lagi berhasil membuka kembali lukaku.

Aku tau, aku tidak bisa terus diam. Life must go on. Mungkin ini jalan untukku berdamai dengan perasaan.

Lanjutan Kisah Cinta Romantis

Anggap saja aku bodoh karena kembali lagi ke negara ini. Selama 5 tahun aku berada di Jelang ternyata tidak membuatku melupakan perasaanku pada Evan. Malah membuat rasa itu semakin terasa nyata dan tak bisa dihapuskan. Aku pun tidak tau apa yang membuatku yakin untuk kembali ke negara ini dan bekerja di sini.

Saat ini aku tidak tau harus menyesali keputusanku itu atau bersyukur. Pasalnya aku sedang mewawancarai seorang artis. Deandra Evandito. Ya, Evan. Evan yang sama yang pernah mengisi hidupku. Sejak kedatanganku tadi dia bersikap profesional. Terlalu formal untuk dua orang yang pernah saling mengenal. Tapi aku juga berusaha bersikap profesional. Aku kembali membaca list pertanyaan terakhir. Aku kira aku sudah siap mendengar jawaban yang akan diberikan Evan atas pertanyaan terakhir. Tapi rupanya aku masih sangat gugup.

Lanjutan Kisah Cinta Romantis

“Seperti yang diketahui publik, Anda menulis lagu-lagu itu untuk seseorang. Dan Anda tidak pernah mau menjawab siapa dia, jadi saya hanya akan bertanya seperti apa ceritanya sehingga dia bisa sangat berharga untuk Anda?” tanyaku seprofesional mungkin. Evan tersenyum.dan menatapku tajam.

“Singkat cerita dulu saya pernah menyukai seseorang. Karena saya tidak punya alasan untuk mendekati dia, maka saya mendekati sahabatnya-” aku beranjak berdiri dan membereskan barang-barangku. Aku tau aku tidak akan kuat menghadapi kata-kata Evan selanjutnya.

“Abaikan saja pertanyaan terakhir saya. Saya rasa wawancara ini sudah selesai, terimakasih atas waktunya.” Baru saja aku hendak berbalik, Evan menarikku hingga duduk kembali di kursi itu dan menghalangi jalanku.

“Kamu bisa lari waktu itu Ay, tapi tidak kali ini. Kamu harus tau semuanya! Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi sebelum mendengarkan penjelasanku. Setelah itu terserah kamu mau bagaimana! Aku janji!” Tak sedikitpun ia mengalihkan tatapannya dariku.

“Jadi orang itu Lisa?” tanyaku. Dia menggeleng. “Jadi-” aku terdiam. Tidak berani berharap. Harapanku tentang dia sudah lebur tak tersisa.

“Iya, kamu!” ujarnya.

“Tapi kamu bilang waktu itu kamu deketin aku cuma untuk deketin Lisa, iya kan?”

“Iya! Aku gak akan mengelak dengan kenyataan itu Ay, tapi kamu juga harus tau kalau selanjutnya aku malah terjebak perasaan sama kamu. Bukan sama Lisa lagi!”

Lanjutan Kisah Cinta Romantis

Aku tidak bisa berkata apa-apa dengan misteri yang baru saja terungkap. Semua ini terlalu indah untuk jadi kenyataan. Namun terlalu nyata untuk jadi sebuah mimpi. Aku masih memandanginya tak percaya. Detik berikutnya yang aku sadari, Evan sudah berlutut dihadapanku.

“Ay, kamu boleh marah sama aku. Kamu boleh benci sama aku. Tapi itu semua gak akan mengubah perasaan aku ke kamu, Ay. Aku gak peduli kalau kamu gak cinta lagi sama aku. Aku bakal tetep cinta sama kamu.

“Sekarang, setelah aku bilang semuanya, terserah kamu mau bagaimana. Aku gak akan maksa kamu.” Dia masih memandangiku. Menunggu aku bicara. Tapi sepertinya aku kehilangan kata-kata. Aku masih terlalu terkejut dengan semuanya.

Satu menit.

Lima menit.

Sepuluh menit. Aku masih terdiam.

“Gak papa. Aku ngerti kok.” Dia tersenyum. Aku tau itu senyum yang dipaksakan. “Kamu berhak dapat yang lebih baik daripada aku.” Dia beranjak berdiri dan hendak keluar. Aku tidak tau apa yang terjadi padaku. Yang aku tau aku sudah memeluknya.

“Jangan pergi lagi!” pintanya. Aku mengangguk tak bisa berkata-kata.

Leave a Comment